Ironi Berkesenian

Apa sesungguhnya orientasi kesenian? Terhadap pertanyaan itu sastrawan besar W.S Rendra mempunyai jawaban tegas. Ia mengatakan “Apalah arti kesenian bila terlepas dari derita lingkungan”.

Seni adalah instrumen manusia mengekspresikan perasaan. Ia menerka, memahami lalu menghayati detail demi detail fenomena dan gejala yang ada sebelum akhirnya menuangkan ke dalam sebuah karya. Mereka belajar dari lingkungan, lalu berproses dalam bentuk karya seni yang artistik. Dengan demikian karya sesungguhnya merupakan konstruk sang seniman terhadap alam lingkungan. Jelas, di sini, bahwa lingkungan adalah basis perenungnan seniman untuk menemukan makna. Bahkan konon mereka kerap menemukan Tuhan pada sebuah karya.

Bukti sahih yang tak terbantahkan bahwa alam menyediakan segala kebutuhan para seniman itu bisa kita lihat pada ketersediaan material seperti kayu, tinta yang digunakan untuk melukis, dll. Lingkungan telah memberikan segalanya bagi para seniman untuk membantu mereka menemukan apa yang mereka cari.
Alam ada sebelum kita ada dan akan tetap eksis setelah kita tiada. Seni harus tunduk pada realita ini yang berarti bahwa alam adalah “orang tua” yang harus dihormati. 

Namun agaknya sulit untuk mengangkat pemahaman ini pada konteks sekarang di mana lingkungan tidak diposisikan secara proporsional. Di sisi lain, melalui jaringan kapitalisme yang kian meluas, manusia diajak melakukan perubahan pola pikir yang eksploitatif. Alam direkonstruksi sebagai benda mati. Tak hanya itu, orang-orang yang menjaga alam selama ratusan tahun juga dianggap benda pasif. Dengan begitu kapitalis sebagai aktor tunggal berhak memainkan peran sebagai ahli waris kekayaan alam. Dianggap wajar bila kemudian mereka mengeksploitasi alam secara berlebihan. 

Saya melihat fenomena ini pada parusahaan PT. Freeport. Selama separuh abad lebih penjarahan terhadap kekayaan alam Papua berikut penghuninya sudah tak terperikan. Karena sudah terlalu lama sehingga pola yang mereka terapkan sudah dianggap biasa dan tak bisa disebut kejahatan. Secara mendasar kapitalisme bertentangan dengan komitment dunia kesenian yang berusaha merangkul alam secara harmoni. Kapitalisme, seperti Freeport, dibangun di atas sifat rakus dan menindas. Sementara dunia seni berpadu berusaha memberi kehidupan. Lantas pertanyaannya, bagaimana jika akhirnya kesenian bergandengan tangan dengan perusahaan kapitalis? Lebih jelasnya, bagaimana menjelaskan pagelaran ArtJog 2016 yang menggandenga Freeport sebagai sponsor event itu? 

Tak hanya Freeport, Bank Mandiri juga konon mengambil bagian dalam pagelaran itu. Menurut kabar terakhir, Bank Mandiri mendanai perusahaan Semen Indonesia untuk memperlancar proyek di Rembang, Jawa Tengah. Seperti kita ketahui bersama bahwa Semen Indonesia adalah perusahaan yang ditentang oleh masyarakat Rembang karena merusak alam Kendheng. Dan masih ada banyak perusahaan yang terlibat dalam perusakan lingkungan yang mendanai suksesnya ArtJog kali ini. 

Ada beberapa point yang bisa dikemukakan di sini. Pertama, ArtJog adalah pasar yang menggunakan kedok seni. Sekalipun mereka mengusung tema kemanusiaan dan kritik sosial, yang tentu saja bertolak belakang dengan apa yang dilakukan Freeport dan perusahaan desktruktif lainnya, pada prinsipnya itu hanya daya pikat untuk menyihir khalayak publik. Mereka tidak sungguh-sungguh berjuang untuk lingkungan melainkan untuk kepentingan pasar dan pribadi. 

Saya meyakini pihak penyelenggara ArtJog mengetahui dampak dari keikutsertaan Freeport, khususnya kritik dari para aktivis. Tapi alasan keterbatasan dana diajukan untuk memaklumi kendala di lapangan. Sesungguhnya, perlukah hal itu dipertahankan sementara ribuan nyawa warga Papua terancam di depan Freeport? Adakah di antara seniman yang dengan gagah berdiri -menyuarakan aspirasi- atas nama orang Papua, dan bukan malah membelakangi mereka dengan meminta bantuan pada Freeport untuk mendanai kegiatan seni?

Ini berbicara moralitas. Dan tentu saja para seniman itu mengatakan “kami tidak bermoral karena menggandeng Freeport” seraya terus mempertahankan kucuran dana.

Kedua, kritik adalah sangat penting. Sekalipun kontrak Freeport dan perusahaan lain tidak memungkinkan diputus di tengah jalan akan tetapi kritik terhadap ironi kesenian ini perlu didukung. Kritik adalah penanda adanya gejala sosial yang ganjil. Persis di situ kritik juga mengandung harapan akan perbaikan. 

Hal inilah yang dilakukan aliansi boikot ArtJog. Bahwa perlawanan dan perusakan alam dan intimidasi terhadap manusia Papua bisa dimulai dari membangun kritik yang jernih pada pagelaran ArtJog. Sekalipun mereka sadar betul bahwa upaya pemboikotan sulit tercapai tapi paling tidak kritik tak akan pernah mati. Kritik adalah membangun kesadaran. Sebaliknya bersikap pasif, secara tak langsung, berarti menganggap hubungan Freeport dan ArtJog adalah benar. 

Lambat laun, di mana dunia kesenian sudah sedemikian canggih, kesadaran akan lingkungan hanya menjadi cerita belaka. Ia hanya akan bisa dilakukan oleh mereka yang sadar dan berjiwa besar. Inilah seniman sesungguhnya. 

Oleh, Ary Irwanto

0 Response to "Ironi Berkesenian"